Media untuk berbagi informasi terkini, terbaru hari ini....

Tampilkan postingan dengan label Tulisanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisanku. Tampilkan semua postingan

Duh Baru Bisa Nulis lagi nih

Duh lama banget nih blog ga di update, hihihihi, maklumlah karena memang koneksi yang ada di tempatku rada gila alias rada-rada gendeng, bukannya seperti Mbah Gendeng tapi memang rada2 leled dan kalau pun itu ada sinyal. Ya seperti inilah keadaan desa terpencil jadi semuanya serba sulit tapi ga apa2 lah yang penting tetap mau berusaha dan bersemangat untuk menghadapi pasti suatu saat ada jalan keluarnya, sejak persistiwa yang lalu yaitu terjadinya gempa di bima membuat saya malas untuk menulis dan mengisi blog ini karena bingung apa yang mau ditulis dan di ungkapkan, ingin sekali menulis berita saat itu tapi karena dalam keadaan bingung ya akhirnya hilang dengan sendiri ide-ide itu, dan sekarang ingin rasanya kembali menulis seperti biasanya di blog ini yang mana blog ini merupaka pemberian dari seorang teman yang lagi berada di luar kota bima sana dan pada saat sms tadi menyempatkan untuk memberikan semangat lagi kepada saya untuk melanjutkan acara ngeblog dan tidak lupa dia menitipkan link Mbah Gendeng - Saya Ikut..ya hanya ini dulu catatan ringan hari ini lagian mumpung koneksi agak bagus ya saya posting aja dulu..heeee

Detik-Detik terakhir kontes seo kampanye

kembali mengamati perkembangan kontes seo dengan keyword kampanye damai pemilu indonesia 2009 yang akhir-akhir ini makin seru saja, bagi penonton peserta seperti saya ini karena bulan ini adalah detik-detik terakhir untuk melakukan kerja keras dalam mengoptimasi keyword Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009 tersebut, karena dalam waktu yang relatif singkat ini waktu untuk melakukan index halaman yang di pakai untuk link back mungkin akan masuk dalam antrian kalau ini menggunak sistem database antrian, tapi kalau logika google memakai waktu cepatnya crawl kemungkin web/blog yang memiliki crawl cepat akan bisa merasakan efek dari sundulan dari blog lainnya namun lagi-lagi ini hanya analisi seorang tukang ngawur yang selalu ngawur dan selalu berharap bisa menang dalam suatu lomba apapun.

Maaf ga pernah Posting

Kenapa Mbojo ilegal??? kayaknya ada yang aneh dengan mbojo ilegal karena sampai hari ini baru melakukan posting..ya saya minta maaf karena akhir-akhir ini saya di sibukkan dengan belajar seo. Soalnya saya lagi ikut kontest seo untuk mencari keyword Busby SEO test dan alhamdullilah sampai detik ini masih di urutan 36 dan saya berharap untuk bisa maju terus sampai 10 besar karena hadiah dari kontest ini sangat besar sekali tapi tentu saja itu harus dengan jurus seo dan teknik seo yang bagus. dan bagi anda yang udah masuk kesini biar ga terlalu kecewa nih saya oleh-oleh kan donwload MP3 gratis dan sedikit soal-soal CPNS buat anda. oke sekian dulu dan kalau ada yang ingin dukung bisa masukkan link saya ke blogrollnya untuk blog saya yang ini http://contest.kangnoval.com dan http://bisnis.kangnoval.com.

Pemikiran Yang Di Stigmakan


Oleh; Muhammad Noval*

Tulisan ini berawal dari sebuah peristiwa yang terjadi pada tahun yang silam ketika itu terjadi pembakaran maupun sweping terhadap buku-buku yang terasa berbau kiri karena dianggap atau diidentikkan dengan komunisme apalagi kalau sebuah negara itu telah mengalami ‘luka’ akibat komunis maka akan sangat mudah isu itu dimasukkan dan berkembang seperti hal nya di Indonesia. Sebenarnya ada apa sih dengan pemikiran yang kiri itu distigmakan sosialis?
Istilah ‘kiri’ sebenarnya menjadi hal yang biasa dalam perbincangan kita karena kiri sudah menjadi kebiasaan kita sekaligus sudah menjadi kesepakatan untuk membedakan dengan yang sebelah ‘kanan’, dan ada juga yang mengatakan kalau kiri itu jahat dan kanan itu baik. Namun ketika term ‘kiri’ dimasukkan dalam ranah pemikirin akan menjadi hal yang sangat luar biasa sekali yang selalu identik dengan anti kemapanan, tidak saja itu karena pemikiran ‘kiri’ ini juga menyimpan gagasan-gagasan besar yang sangat menantang, melawan, sekaligus ‘merusak’ setiap tradisi yang sudah dianggap ‘mapan’ (establisment) dan bahkan bermunculan ide-ide besar yang mampu merubah keadaan.
Dalam lintas sejarah term ‘kiri’ ini acap kali di identikkan atau ditimpakan kepada segala hal pemikiran dan gerakan sosial yang berusaha melakukan pembacaan ulang atas situasi-situasi mapan atau yang dimapankan oleh kekuasaan dan kekuatan yang dominan. Dan lebih menarik lagi term ini akan menjadi ‘hantu’ ketika dilabelkan pada setiap pemikiran dan gerakan sosial yang mengusung simbol-simbol ‘revolusi’ sebagaimana Sosialisme, Marxisme, serta Komunisme. Sehingga dalam ruang kesadaran kita pun sudah terlanjur melembagakan stigmatisasi atas term kiri ini sebagai sosialis, jadi tidak salah kalau tahun yang silam itu terjadi pembakaran buku yang berbau kekirian sebab saat itu di Indonesia masih tersisa luka akan komunis pada orde lama atau yang sering disebut G30 S PKI namun satu hal yang sangat disayangkan sekali seperti yang diungkapkan oleh Franz Magnis Suseno “fenomena membakar buku tersebut adalah tindakan fisik untuk membungkam pikiran-pikiran yang tidak mampu dilawan secara pikiran , utamanya pada abad ke-20. Model ini sering kali digunakan serta menjadi ciri khas dari Fasisme dan Nazisme, fenomena tersebut disamping menunjukkan minimnya pemahaman masyarakat atas berbagai bentuk model pemikiran, juga menjadi sebuah fakta bahwa ada kesalahan fatal dalam pemahaman masyarakat atas terminologi ‘kiri’ ini ”.
Dan ini terbukti sekali dalam tatanan masyarakat sekarang kita (masyarakat Indonesia) terjebak pada konstruksi kesadaran yang salah kaprah, bahwa setiap pemikiran yang terasa berbeda dengan arus utama atau mainstream yang berkembang saat itu selalu dianggap model pemikiran ‘kiri’. Dan lebih parahnya ‘kiri’ dalam hal ini selalu di identikkan dengan komunisme. Padahal wacana ‘kiri’ senantiasa untuk selalu bergerak dalam wilayah sosial dan pemikirannya senantiasa melawan, mengkritik, dan memang terkadang ‘nakal’ untuk menghancurkan segala hal yang berbau kemapanan, terutama kemapanan kekuasaan otoriter dan juga kapitalisme moderen. Nah dengan adanya pemikiran ini akan seharusnya kita bisa berpikir sebenarnya ada apa dengan kemapanan itu dan kenapa pemikiran ‘kiri’ ini harus dimusuhi? Seperti yang ditulis oleh Listiyono “bisa jadi kemapanan termasuk kemapanan pengetahuan memuat seperangkat prinsip yang manipulatif untuk sekadar mempertahankan kemapanan tersebut. Pembongkaran atas situasi ‘mapan’ dari sebuah kekuasaan inilah yang menjadi spirit ilmiah gerakan ‘kiri’, terutama pembongkaran atas berbagai kekuasaan yang berlindung dibalik jubah ideologi-ideologi .”
Sebenarnya pemikiran dan gerakan ‘kiri’ lebih diletakkan dalam pembacaan ulang secara kritis atas berbagai bentuk pengetahuan yang dominan yang kemudian diperlakukan sebagai kebenaran satu-satunya. Ketika sebuah pengetahuan ditampilkan sebagai kebenaran utama, maka ia cenderung dinomorsatukan sebagai kemapanan formal, dan pada saat yang bersamaan ia akan meminggirkan realitas kebenaran yang lain. Setiap yang berbeda dengan pemahaman konstruksi pengetahuan yang dimilikinya merupakan sebuah kesalahan. Dengan demikian perspektif ‘kiri’ dalam hal ini sekedar membongkar asumsi dasar dari sebuah epistemologi penyusun sebuah pengetahuan, karena jangan-jangan pada setiap kemapanan pengetahuan itu sesungguhnya bersembunyi berbagai kepentingan-kepentingan ideologis dan juga manipulasi atas kebenaran itu. Dan sudah jelas sekali pembongkaran seperti ini akan ‘membahayakan’ kekuasaan. Maka tidak heran kalau pada 5 tahun silam itu terjadi pembumi hangusan buku yang berbau ‘kiri’ itu yang sebenarnya ini tidak harus terjadi karena “Hasil Pemikiran ‘Kiri’ VS Anarkis” pasti pemikiran akan hilang dengan sendirinya kalau memang pemikiran ‘kiri’ itu dianggap salah atau pun menyimpang seharusnya yang terjadi adalah dialetika yang baik bukan gerakan naif, inilah hal yang sangat disayangkan seperti apa yang diungkapkan oleh Franz Magnis Suseno diatas.
Munculnya term ‘kiri’ pada dasarnya tidak terlepas dari persoalan bahasa, karena sudah jelas dalam beberapa dekade terminologi ‘kiri’ menjadi momok serius dalam konstelasi pemikiran bahkan dulu untuk mendapatkan buku yang dianggap ‘kiri’ akan sangat sulit sekali dan kalaupun toh kita mendapatkan pasti sangat minim sekali seperti apa yang diungkapkan oleh Andi Muawiyah “untuk membaca buku karl marx saya harus sembunyi-sembunyi dan selesai membaca langsung disembunyikan lagi” ini menunjukkan betapa sulitnya untuk mempelajari hal-hal yang sudah dianggap keluar dari hal-hal yang sudah dimapankan menyimpang dari aturan. Kita tidak akan tahu siapa yang menghembuskan terminologi ini. Sehingga telah terkonstruk dalam pemikiran manusia yang selalu terbentuk dalam dua oposisi binner yang akan saling berhadapan seperti yang diungkapakan oleh Ferdinand “bahwa kiri harus selalu dihadapan dengan kanan, dimanapun, kapanpun serta dalam situasi apapun”. Dengan munculnya dua oposisi binner ini menunjukkan perbedaan-perbedaan yang sampai melembaga dalam ruang kesadaran sehingga pola pikir yang terbentuk adalah pola berpikir yang dikotomis artinya dalam proses berpikirpun manusia acapkali memberikan identitas tertentu sebagai pembeda, yang ironisnya selalu dibenturkan sebenarnya pada dasarnya ini adalah suatu permainan bahasa yang merasa ketakutan hasil pemikirannya ataupun kekuasaannya akan diambil alih maupun disingkirkan sehingga wacana yang terbangun adalah setiap yang berbeda selalu dianggap sebagai ‘lawan’ yang mestinya dilenyapkan dan tentu saja dengan ‘bumbu-bumbu’ negatif atas pola pikir yang berbeda tersebut. Tujuan dari ini semua adalah bagaimana pola pikir yang berbeda dibebani dengan sejumlah stigmatis dan menggiringnya kepojok kesadaran manusia agar tidak dipelajari dan atau tidak dikenal orang, yang pada akhirnya terciptalah situasi-situasi dimana manusia digiring untuk (latah) menerimanya sebagai kesalahan sebuah pemikiran dan endingnya makin kokohlah ‘kekuasaan’ maupun ‘pemikiran’ yang telah dimapankan. Kelihatan sekali bagaimana bahasa itu dipergunakan sebagai alat propaganda untuk meligitimasi sebuah kekuasaan maupun pengetahuan, seperti apa yang diungkapkan oleh Ariel Hariyanto “bahasa merupakan suatu kegiatan sosial” karena dari sini terlihat bagaimana bahasa itu senantiasa membentuk subyek-subyek, strategi-strategi, dan tema-tema wacana tertentu, atau dengan bahasa lainnya bahasa merupakan ruang bagi pergelaran kuasa-kuasa tertentu. Sehingga terbentuknya binner seperti “kanan” dan “kiri” adalah cerminan dari kekuatan pencipta bahasa dalam mengartikulasikan kepentingan politiknya.
Tokoh-tokoh yang sering dicap kiri adalah seperti Karl Marx, Nietzsche, Gramsci, paulo freire, jurgen habermas, dll selain dari para tokoh barat ini dari tokoh pemikir islam pun ada yang di cap ‘kiri’ oleh jamannya seperti Muhammad Arkound, Hassan Hanafi dan Asghar Ali Engineer. Apakah yang menyebabkan orang-orang ini di cap sebagai tokoh ‘kiri’?
Karl Marx tokoh yang satu ini sangat terkenal dengan Materialisme Dialektis dan Historis yang merupakan suatu pemahaman bahwa dunia selalu berada dalam proses perkembangan yang dialektis yakni penerimaan dan penolakan. Jadi pengetahuan manusia yang muncul dari proses dialektis adalah benar jika dipahami dengan kerangka hubungan antara setiap kejadian dalam dunia yang nyata. Dari hal ini muncul suatu pemahaman bahwa kenyataan memunculkan kesadaran manusia. Hal ini berarti memunculkan pengetahuan sebagai salah satu bentuk kesadaran. Jadi dalam proses dialektis ini terkandung unsur-unsur yang saling bernegasi. Dalam pemikiran yang lain tentang perjuangan kelas karl marx selalu melakukan perlawanan terhadap mereka para borjuis dari sini karl marx berusaha untuk mengangkat para kaum buruh / proletar. Selain Karl Marx kita juga akan melihat bagaimana Nietzche melakukan dekontruksi atas kemapanan akal dan juga kehendak untuk berkuasa, pemikiran Nietzche ini mengejewantahkan bahwa manusia itu akan menjadi agung jika memadukan secara harmonis dari tiga hal yaitu; kekuatan, kecerdesan dan kebanggaan. Nietzsche adalah seorang Vitalis dan Nihilisme namun vitalisme disini mengandung makna semangat hidup. Menurut dia manusia itu agung asal mau menjulangkan semangat hidup dan gairah setinggi-tingginya, untuk itu manusia harus bebas dari kekuatiran akan dosa dan bebas dari nilai-nilai tradisional yang telah membelenggu potensi kemanusiaannya. Seorang filsuf kiri yang sangat berkonsentrasi dalam bidang pendidikan adalah Paulo Freire dengan Pendidikan Tertindas dia memunculkan berbagai kesadaran baru untuk melawan berbagai ketertindasan secara edukatif dengan berpijak pada kesadaran magis, kesadaran naif dan kesadaran kritis. Paulo freire sangat intens sekali dalam memperjuangkan kebebasan bagi orang-orang termiskin dari yang miskin. Paulo freira pun bahkan telah sukses menarik minat warga yang buta huruf untuk belajar dan menulis dalam waktu yang singkat yaiut 30 menit. Selain tokoh barat ada dua tokoh islam yang di cap kiri yaitu Mohammad Arkoun yang melakukan rekontruksi terhadap Al-Qur’an dengan nalar kritis. Nah kalau dilihat dari ini sebenarnya kemauan dari Muhammad arkoun adalah bagaimana agar orang-orang yang melakukan interpretasi terhadap al-quran itu tidak salah atau salah kaprah sehingga pesan yang terkandung didalamnya tidak melenceng jauh, menurut Arkoun “teks al-quran telah banyak melahirkan literature tafsir, interpretasi, sepanjang sekian abad sejak kelahirannya sampai dengan sekarang, tumpukan tafsir itu di ibaratkan menyerupai lapisan-lapisan geologis pada bumi, yang satu berada diatas yang lainnya sehingga sangat sulit untuk menembus keperistiwa pembentukan pertama (al-hadas alta’sisiyyu al awwl) dalam keadaan yang masih segar dan kaya, kecuali jika telah dibongkar lapisan-lapisan geologis yang pejal yang tak lain adalah literature tafsir yang menjadi penghalang pemandangan. Jika gagal untuk mengetahui sebagaimana adanya, maka yang diketahui adalah hanya sebatas citraan-citraan yang terefleksi darinya.” Bahkan pendapat arkoun yang sangat terasa controversial sekali adalah iamengatakan “bahwa dalam tafsir islam dengan segala macam mazhab serta alirannya, sesungguhnya Al-Qur'an hanya merupakan ‘alat’ untuk membangun teks-teks lain yang dapat memenuhi kebutuhan dan selera suatu masa tertentu setelah masa turunnya Al-Qur'an itu sendiri dengan begitu semua tafsir itu ada dengan sendirinya dan untuk dirinya sendiri.” Arkoun pun mengkritik tradisi ortodoks yang didominasi oleh logosentrisme selain itu dia juga mengkritik dunia mitos yang terlahir dari visi masa lalu yang eksklusiv. Selanjutnya Hasan Hanafi seorang tokoh yang mempelopori teori Oksidentalisme sebagai lawan dari Orientalisme dan dia juga yang menggagaskan Kiri Islam, dari studi Oksidentalisnya inilah Hasan Hanafi berusaha “menelanjangi” sekaligus membongkar hegemoni barat atas dunia islam. Karena westernisasi telah membuat dunia timur (Islam) bagai berjalan diatas “dua kaki yang berbeda”. Berawal dari sini dia mempelopori Oksidentalisme untuk menghadapi Barat yang memiliki pengaruh besar terhadap ruang kesadaran peradaban Timur, karena selama ini dunia Timur dijadikan sebagai bahan objek kajian bagi dunia barat sebagaimana dikenal dengan Orientalisme.
Ini hanyalah sebagian kecil orang-orang yang dicap ‘kiri’ tapi sebenarnya masih ada banyak tokoh-tokoh kiri yang terus melakukan resintensi terhadap segala bentuk pengetahuan maupun kekuasaan yang telah di mapankan dan karena pemikiran ‘kiri’ ini dianggap berbahaya maka berbagai upaya mereka lakukan untuk menghilangkan sisa pemikiran kiri ini. Dan salah satu yang pernah terjadi pada tahun lalu atas pembakaran buku itu merupakan suatu bukti bahwa pemikiran kiri ini memang ingin dilenyap dari permukaan ini? TANYA KENAPA?
Nah sebagai seorang mahasiswa anda tahu apa yang harus anda lakukan karena jangan-jangan sesuatu yang dimapankan itu memuat berbagai kepentingan!!



Penulis adalah Co. Dirjen Advokasi BEM-F Saintek 2006-2007
dan Co. Gerakan PMII rayon “pencerahan” Galileo 2006-2007.
Kader PM11 rayon “pencerahan” Galileo.

Demokrasi Alat Indera???


Oleh; noval_mandolo*


"Mereka yang meminta demokrasi – dan bersedia mati untuk itu – dari manakah mereka menangkap ilham? Setidaknya dicina, atau di chili, di iran atau di singapura, di indonesia atau di korea, selalu ada orang yang dengan cemas maupun gemas memandang anak muda yang meminta demokrasi, : "kalian mau kebebasan? Kalian mau barat? Mau hal yang imitasi? Dan kecaman pun ditembakkan atau tentara dikirim, bayonet dihunus dan peliru dilepaskan.
Kita kaget. Kita sedih. Kita tak menduga bahwa pembantaian seperti itu bisa terjadi. Kita semua tidak membayangkan bahwa sekejam itukah perlawanan yang dilakukan bagi mereka yang selalu meneriakan sebuah demokrasi dan selalu memperjuangkan demokrasi yang akhir mereka dibalas dengan pembunuhan yang sangat kejam, kita lihat dicina pembantaian ribuan mahasiswa pro—demokrasi oleh pemerintah komunis dilapangan Tiannamen. Mengapa demokrasi harus dilawan dengan kekuasaan yang bertopang senjata" ??? (goenawan muhammad)

Sedikit pengantar dari goenawan muhammad diatas bisa membawa kita untuk berpikir bahwa nilai perjuangan sebuah demokrasi sangatlah mahal dan itupun harus dibalas dengan kematian yang sangat kejam. Lantas bagaimanakah dengan proses demokrasi di Indonesia? Perubahan politik sebagai akibat runtuhnya rezim komunisme dan perkembangan ekonomi internasional telah membawa perubahan yang sangat fundamental dalam tatanan kehidupan politik dunia. Isyu tentang hak asasi, demokrasi bersama lingkungan hidup mencuat kepermukaan. Negara-negara maju seperti amerika dan sekutunya membuat kebijaksanaan baru dengan mengkaitkan bantuan yang sangat dibutuhkan dunia ketiga dengan kondisi hak asasi dan demokrasi dinegara yang bersangkutan. Inilah proses awal menyebarnya isyu demokrasi termasuk sudah masuk di Indonesia.
Sekarang kita kembali lagi kepermasalahan yaitu demokratisasi alat indera, ternyata demokratisasi yang terjadi sekarang ini di Indonesia hanya baru pada tahap mulut saja sedangkan demokratisasi alat indera yang lain belum terjamah ataupun belum bisa dilaksanakan seperti kuping inilah alat indera yang sangat vital sekali disamping mulut. Nyerocos sampai tahap pengkritikan sudah mulai lancar terlihat diberbagai belahan aspek kehidupan ini namun terkadang kalau kita mendengarkan kritikan sering membuat hati kita hampir jatuh, was-was, dongkol, bahkan membuat kita naik pitam yang akhirnya menimbulkan suatu perbuatan yang sampai itu bisa menghilangkan nyawa orang lain inilah fenomena yang terjadi sekarang ini dan itu terjadi dijaman dahulu tepatnya dicina seperti apa yang telah diungkapkan oleh seorang penulis maupun wartawan suatu surat kabar diatas dan mungkin akan sampai kiamat nanti.!!!
Dibandingkan dengan zaman orde baru sebetulnya keadaan ini sudah jauh dari lumayan. Dimasa itu demokrasi kita hampir dipenuhi dengan sosok-sosok tunawicara dan tunarungu tidak bisa mengkritik dan tidak bisa memberikan masukan. Sekarang ini setidaknya kita sudah mulai bisa berbicara dan dengar walau itu ketika kita mendengarkan berita atau laporan serta kritik perkembangan yang buruk kita masih memakai hati yang dongkol.
Kalau kita menilik arti demokrasi yang pada dasarnya adalah kepercayaan akan kebijakan orang banyak. Inikan berarti bahwa lebih banyak kepala akan semakin banyak masukan dan pengawasan dan itu juga akan semakin besar juga peluang untuk mendekati permasalahan dengan seksama. Jauh dari itu dari dalam lubuknya lebih dari sekedar kepercayaan akan kebebasan sebagai fitrah manusia namun demokrasi adalah haluan yang berusaha menempatkan kesetaraan segenap manusia dan jelaslah betapa demokrasi itu termasuk bersikap setara pada sesama warga ataupun terbuka dengan kritikan, masukan dan perbedaan pendapat bukan sebaliknya demi kepentingan pribadi, golongan ataupun ideologi serta sekedar sebuah keputusan politik demokrasi selalu menjadi tameng atau kambing hitam. Dengan hal itu bukanlah berarti hal yang mustahil atau relatif melainkan sebersit kerendahan hati akan serba keterbatasannya mahluk dalam menghadapi kekayaan realita yang kompleksitas dengan permasalahan, sehingga tak berani untuk menjatuhkan sebuah kata final apalagi dengan memonopoli "kebenaran". Sehingga persoalan-persoalan yang rumit akan mudah diselesaikan apabila itu dilakukan banyak orang. Perbedaan pendapat, saling kritik, memberi masukan, merupakan suatu hal yang wajar karena dengan itu semua akan membawa kita pada kebersamaan menuju suatu cita-cita yang kita inginkan yaitu demokrasi yang benar-benar kembali kepada kita semua.
Kala kita menjadi seorang pemimpin marilah kita semua membuka hati dan menjaga alat indra kita apalagi yang namanya kuping karena kuping sering merasa "panas" apabila ada kata yang memang itu kenyataan yang ada pada diri kita, dengan cara inilah kita semua bisa menjalankan semua dengan sesuai tujuan kita dengan menerima kritikan karena tidak selamanya kritikan itu salah pasti ada yang mana itu bisa membangun dan jangan selalu kita mengkritik apabila kita tidak bisa melakukan apa-apa karena otokritik adalah hal yang percuma saja. Dan jangan kita menggunakan demokrasi sebagai cara untuk mencapai tujuan pribadi maupun golongan karena demokrasi adalah milik semua orang. Persis yang telah diucapkan atau dinyatakan oleh salah seorang pemimpin kita bahwa keterbukaan adalah suatu "cara" bukan "tujuan" begitupun dengan demokrasi kita harus pandang sebagai "cara" bukan untuk mencapai yang namanya "tujuan" dan bukan pula tujuan itu sendiri.

"Pandangan hidup demokratis bertumpu dengan teguh di atas asumsi bahwa cara harus sesuai dengan tujuan dan ketentuan inilah jika dipraktekkan yang akan memancar sebagai tingkah laku demokratis dan membentuk moralitas demokratis.
Janganlah kami ditunjukkan hanya tujuan tanpa cara sebab tujuan dan cara didunia ini sedimikian terjalin, mengubah salah satu akan berarti mengubah satunya lagi juga dan setiap cara yang berbeda akan menampakkan tujuan yang lain.
Dan ingatlah bahwa kuping itu sangat berbahaya bila didekatkan dengan suatu yang menyimpang menurut ketentuan umum dan kuping akan bermanfaat bila itu didengarkan dalam hal yang normatif " !!!(mandolo)

Penulis adalah kader PMII yang merupakan putra daerah BIMA (mbojo)

Personal Blog Copyright © 2011 | Template by Premium Template | Powered by Blogger